250,702 views 130 on YTPak
90 52

Published on 22 May 2016 | 6 months ago

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Athiyah (wanita tukang khitan):

أُخْفُضِي وَلَا تُنْهِكِي فَإِنَّهُ أَنْضَرُ لِلْوَجْهِ أَحْضَى لِلْزَوْجِ

“Artinya : Khitanlah dan jangan dihabiskan (jangan berlebih-lebihan dalam memotong bagian yang dikhitan) karena yang demikian lebih cemerlang bagi wajah dan lebih menyenangkan (memberi semangat) bagi suami” [Shahih, Dikeluarkan oleh Abu Daud (5271), Al-Hakim (3/525), Ibnu Ady dalam Al-Kamil (3/1083) dan Al-Khatib dalam Tarikhnya 12/291)].

Lalu ada postingan artikel lagi, menyebutkan bahwa sunat perempuan itu anjuran atau keharusannya tidak jelas. Ada lagi yang menulis, bahwa hadisnya Abu Dawud itu mursal, yaitu hadis yang kehilangan mata rantai riwayat karena tidak ditemukan di antara para sahabat Nabi. Selain itu, hadis ini hanya ada dalam Abu Dawud dan tidak ada dalam kompilasi hadis terkemuka lainnya. Lalu hadits shahih yang lain bagaimana?

Biasa itu ada pro dan kontra. Tapi gatel juga baca postingan kok semua yang tentang ‘negatif’-nya sunat perempuan. Pengen juga nih posting artikel SP yang isinya tentang sunat perempuan yang ‘positif’, supaya info yang keluar berimbang. Tinggal yang baca memilih, mau percaya yang mana. Ilmiah atau enggak, tergantung kepercayaan ajah. Dulu juga sunat pada laki-laki nggak ada bukti ilmiahnya, tapi ya dilaksanakan juga, kan. Setelah berabad lamanya baru terbukti secara medis. Kolom komentar di bawah sudah jadi thread panjang tentang manfaat dari sunat perempuan. Mungkin perlu ditulis postingan tentangnya juga nih.

Berikut artikel tentang sunat perempuan dicopas dari almanhaj. Beberapa poin penting:

• Sunat perempuan itu bagian dari syariat Islam. Tidak usah membantah apalagi membencinya.
• Sunat perempuan sifatnya menyempurnakan.
• Merupakan kehormatan bagi perempuan.
• Jika ada bagian yang dikhitan, maka sebaiknya dikhitan. Jadi kalau nggak ada, nggak dikhitan juga nggak apa-apa.

============

Al Mawardy mengatakan, “Khitan bagi wanita itu dengan memotong kulit yang menutupi bagian atas farjinya, di atas tempat masuknya zakar. Bentuknya seperti jengger ayam jantan. Yang wajib dipotong adalah kulit bagian atasnya tanpa mencabutnya (tanpa menghilangkan semua)”

Imam al-Haramayn mengatakan, “Yang perlu dalam mengkhitan wanita adalah asal memenuhi apa yang disebut khitan.”

Sedang menurut Syaikhul Islam Ibn Taimiah bahwa mengkhitan wanita adalah dengan memotong kulit bagian atas farjinya yang bernentuk seperti jengger ayam jantan.

Jadi, berdasarkan pendapat tersebut, khitan wanita itu adalah dengan memotong sebagian kulit yang telah diisyaratkan di atas tanpa mencabutnya atau tidak berlebihan dalam memotongnya. Sebab nabi Muhammad saw pernah mengatakan kepada wanita yang biasa mengkhitan wanita di Madinah,

“Janganlah kamu berlebihan. Sebab itu lebih menguntungkan/menyenangkan wanita dan sangat disukai suaminya.”

Dalam satu riwayat yang disebutkan oleh Ruzain, “Janganlah kamu berlebihan. Sebab hal itu akan lebih menjadikan wajah berseri dan lebih menguntungkan laki-laki (suami)”

Syekh Abu Muhammad mengatakan, “Maksud hadits tersebut, bahwa jika tidak berlebihan dalam memotong, maka akan lebih memberikan kesegaran kepada muka dan bagus untuk kepuasan jimak.”

Jadi, khitan bagi wanita akan menambah kecantikan dan keindahannya, serta menambah keelokan dan keceriaan pada air muka. Hal tersebut tidak akan didapatkan oleh wanita-wanita yang tidak berkhitan.”

Loading related videos...