108,453 views 207 on YTPak
158 10

Published on 21 Apr 2016 | 8 months ago

Freddy Budiman, terpidana mati kasus narkoba yang akhir pekan lalu dipindah dari LPGunung Sindur, Bogor, ke LP Super Maximum Security (SMS) Nusakambangan menyatakan siap dieksekusi. Dia menyadari risiko atas perbuatannya. ”Saya siap dieksekusi mati. Ini risiko saya,” kata Freddy di selasela tes urine yang digelar Badan Narkotika Nasional Kabupaten Cilacap di LP SMS yang juga dikenal dengan LPPasir Putih itu.

Freddy mengatakan, dia tidak merasa sendirian jika harus dihukum mati. Sebab, menurutnya, ada banyak terpidana mati lain yang masuk daftar eksekusi. Dalam kesempatan itu dia juga menyampaikan permintaan maaf kepada semua pihak atas tindakannya. Dia merasa telah meracuni banyak orang dengan narkoba. Freddy juga memuji kinerja aparat penegak hukum dalam mencegah peredaran narkoba. Banyak bandar yang merupakan temannya, termasuk dari luar negeri, mengatakan kepadanya bahwa Indonesia sudah bukan lagi pasar bagus narkoba.

Pengamanan dan pengawasan makin ketat. ”Kerja petugas sangat bagus. Teman bandar banyak yang mengatakan, sekarang sulit menjadikan Indonesia sebagai pasar narkoba.” Freddy kini ditempatkan di sel isolasi. Dia dijaga dengan pengawasan sangat ketat dan tidak bisa berkomunikasi dengan pihak lain, kecuali keluarga, petugas LP, dan pihak-pihak tertentu yang benar-benar diizinkan. ”Begitu datang, dia kami masukkan ke sel isolasi. Di sana dia benar-benar terisolasi dan tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun,” kata Kepala LP SMS Nusakambangan Hendra Eka Putra.

Freddy dijatuhi hukuman mati oleh PN Jakarta Barat pada 2013 karena mengimpor 1,4 juta butir ekstasi dari Tiongkok. Kabar yang beredar menyebutkan, dia masuk daftar terpidana mati yang akan dieksekusi di Nusakambangan dalam waktu dekat.

Revisi UU

Di Jakarta, Kepala BNN Komjen Budi Waseso kecewa dengan penegakan hukum terhadap para bandar narkoba. Ia menyoroti lamanya proses eksekusi terhadap bandar yang diputus hukuman mati. ”Penegak hukum di Malaysia dan Singapura itu tegas, bahkan terhadap pengguna mereka mengganjar hukuman mati, sehingga orang di sana sama sekali tidak berani memakai narkoba. Kalau kita, pengguna dianggap korban, bahkan bandar besar yang sudah divonis mati, tidak mati-mati juga,” ujarnya dalam jumpa pers di kantor BNN, kemarin.

Indonesia, menurut Budi, merupakan surga bagi peredaran narkotika. Hal ini salah satunya disebabkan penegakan hukum yang masih lemah. ”Kita jadi bangsa pasar karena ada kelemahan dalam penegakan hukum. Negara ini jadi surga peredaran narkoba, surga bagi jaringan narkoba. Persoalan narkoba tidak selesai-selesai,” paparnya. Karena itu dia akan mengoptimalkan upaya revisi UU Narkotika. Terkait hal itu, BNN terus berkoordinasi dengan DPR.

Loading related videos...